Artikel: KELUARGA: ARTI, LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN DAN PERANNYA SEBAGAI PENERUS KEBUDAYAAN

Judul

KELUARGA: ARTI, LATAR BELAKANG PEMBENTUKAN, KEDUDUKAN DAN PERANNYA SEBAGAI PENERUS KEBUDAYAAN

Isi

Oleh : Drs. Mardiya

Dalam konteks yang luas, keluarga sering diterjemahkan dalam berbagai arti. Ada yang mengandung makna status, ada pula yang mengandung pengertian kelas. Dengan pengertian status, berarti keluarga yang dimaksud adalah untuk menyebutkan sekelompok orang yang berkaitan dengan hubungan darah (marga). Sedangkan dalam pengertian kelas, keluarga digunakan untuk menyebut sekumpulan orang dengan karakteristik kehidupan dan tingkatan sosial ekonomi tertentu.
Dalam pengertian status, ada dua jenis keluarga. Pertama, keluarga biologis yang dalam peristilahan Bossard dan Boll disebut keluarga prokreasi – family of procreation. Pada keluarga jenis ini antara ayah-ibu-anak, terbentang hubungan darah yang tidak dapat dihapus. Walaupun mereka tinggal di tempat yang berjauhan, atau bahkan bercerai sekalipun, mereka tetap memiliki hubungan darah. Oleh sebab itu keluarga ini sering dijuluki sebagai “segitiga nan abadi” atau eternal triangle. Kedua, keluarga orientasi (family of orientation), yakni keluarga yang lebih didasarkan atas adanya pengaruh mempengaruhi antara anggota-anggotanya dan terutama pada pencarian arah oleh anak kepada orang tuanya. Berbeda dengan keluarga biologis yang ikatannya sangat erat dan menetap, keluarga orientasi menunjukkan ikatan yang tidak menetap dan mudah berubah. Keluarga ini sering pula disebut keluarga interaktif (interactive family) atau keluarga psikologis (psychologis family), mengingat intensifnya hubungan dan banyaknya faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi hubungan mereka.
Sementara itu dalam pengertian kelas, keluarga dibedakan atas beberapa kategori. Pertama, berdasarkan tingkatan kehidupan ekonomis, kita mengenal keluarga kaya dan keluarga miskin. Kedua, berdasarkan letak geografis (baca: kewilayahan), kita mengenal keluarga Garut, keluarga Lamongan, keluarga Yogya, dan sebagainya. Ketiga, berdasarkan silsilah atau keturunan, kita kenal keluarga Wongsodimejo, keluarga Notonegoro, keluarga Sukapura, dan sebagainya. Keempat, berdasarkan tempat atau lingkungan kerja, kita mengenal keluarga IKIP, keluarga Telkom, keluarga PJKA dan sebagainya. Kelima, berdasarkan pola kehidupan dan mata pencaharian, kita mengenal keluarga tani, keluarga guru, dan sebagainya.
Terkait dengan pengertian keluarga, Bailon dan Maglaya (1997) mendefinisikan keluarga sebagai kumpulan dua orang atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, saling berinteraksi satu sama lainnya dalam perannya menciptakan atau mempertahankan suatu budaya.
Dalam tinjuaan sosiologis, keluarga tersebut merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari suami isteri dan anak-anak yang belum dewasa. Keluarga ini merupakan community primer yang paling penting dalam masyarakat, karena hubungan antara para anggotanya sangat erat dan kekal. Oleh karena itu, keluarga tersebut mempunyai sifat-sifat dan ciri-ciri sebagai berikut:
Pertama,  memiliki ikatan batin dan  emosional. Artinya di antara para anggota memiliki rasa kasih sayang dan kecintaan yang mendalam, termasuk kebanggaan terhadap eksistensinya.
Kedua, memiliki hubungan darah. Artinya, setiap anggota keluarga tersebut  berada dalam satu jalur keturunan kecuali suami dan isteri yang berasal dari garis keturunan yang berbeda.
Ketiga, memiliki ikatan perkawinan. Artinya, pasangan pria wanita yang membentuk keluarga diikat oleh perkawinan yang sah (menurut agama dan pemerintah), sehingga secara resmi mereka telah menjadi pasangan suami isteri. Perkawinan ini bisa indogami, yakni kawin dengan golongannya sendiri, atau eksogami, yaitu kawin di luar golongan sendiri.
Keempat, mempunyai kekayaan keluarga. Artinya, keluarga pasti mempunyai harta benda untuk kelangsungan para anggotanya.
Kelima, memiliki tempat tinggal. Artinya, setiap keluarga pasti memiliki domisili dan menempati rumah tertentu, baik itu milik sendiri maupun bukan.
Keenam, memiliki tujuan. Artinya, setiap keluarga pasti memiliki tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai seperti meneruskan keturunan, menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan perkembangan fisik, psikologis dan sosial anggota.
Ketujuh, setiap anggota keluarga saling berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sendiri-sendiri.
Sebagaimana diuraikan di muka, suatu keluarga terdiri dari sekumpulan orang yang hidup bersama untuk jangka waktu selama mungkin, bahkan kalau mungkin untuk selamanya. Dengan kata lain, secara sosiologis maupun psikologis, suatu keluarga – bagaimanapun bentuk dan jenisnya – secara implisit mengandung arti ikatan. Maka wajarlah apabila kemudian muncul pertanyaan, bagaimana timbulnya ikatan itu dan apa latar belakangnya ?
Kelahiran suatu keluarga, biasanya diawali oleh perjumpaan antara seorang pria dan wanita yang dilanjutkan dengan proses pacaran, tunangan, kemudian menikah dan membentuk satu keluarga. Pasangan ini dapat terjadi secara kebetulan, disengaja, atau mungkin juga diatur. Bahkan pada zaman dahulu, tidak sedikit pasangan keluarga yang tidak saja diatur oleh orang tua, melainkan juga dpaksa dengan alasan-alasan tertentu, tidak sedikit pasangan keluarga yang tidak saja diatur oleh orangtua, melainkan juga dipaksa dengan alasan-alasna tertentu (ekonomi, trah, status sosial, dan sebagainya). Sehingga pada masa lalu meskipun sampai sekarang dimungkinkan masih ada sering muncul istilah kawin lari. Yakni membangun keluarga tanpa restu dari orang tuanya maupun calon mertua.
Sementara itu terkait dengan alasan berkeluarga, ada beberapa hal yang melatarbelakanginya :
Pertama, alasan biologis (seks) dan mendapat keturunan. Alasan ini merupakan alasan yang yang paling umum dianut orang. Karena mereka berpandangan bahwa dengan kawin dan membangun keluarga, hasrat seksnya akan tersalurkan tanpa harus takut berdosa dan mendapat kutukan Tuhan, termasuk terkena penyakit kelamin. Selain itu mereka dapat memperoleh keturunan yang akan meneruskan sejarah kehidupannya, serta melanjutkan cita-cita orang tuanya yang belum tercapai.
Kedua, alasan ekonomi. Alasan ekonomi sering diajukan (meskipun tidak selalu) oleh mereka yang akan kawin dengan anak keluarga kaya. Alasan ini mendasarkan pada asumsi bahwa materilah yang merupakan pembawa kebahagiaan dalam keluarga. Sehingga perkawinan dalam hal ini, dijadikan sebagai alat transaksi perdagangan belaka. Alasan ekonomi ini juga sering diajukan oleh keluarga petani (walau tersamar) yang memiliki sawah ladang luas dan membutuhkan seorang penggarap. Sehingga, ketika keluarga pertani itu mengawinkan anaknya, lebih didasarkan pada upaya memanfaatkan tenaga menantunya, dari pada membahagiakan anaknya dalam bahtera rumah tangga. Meskipun demikian, ada juga yang berpikir lebih realistis. Artinya, alasan ekonomi dijadikan dasar oleh calon pasangan supaya kelak jika berhemat.dibanding ketika mereka masih sama-sama membujang atau masa pacaran.
Ketiga, alasan rasa keterjaminan atau keamanan, baik dalam arti fisik maupun psikologis. Alasan aman dan terjamin ini biasanya muncul pada wanita yang mengharapkan tempat bergantung dan berlindung demi ketenangan dan keamanan hidupnya. Meskipun hal ini juga sering dijumpai pada kaum pria yang mendambakan kehidupan keluarga yang serba teratur dan terpelihara dalam memenuhi kebutuhan fisik dan psikisnya. Mereka berpandangan, dalam kehidupan keluarga, rasa aman dan terjamin hanya akan dapat terpenuhi jika memiliki suami atau isteri yang setia, mau mengerti perasaannya, menghargai pendapatnya, dan mau membantu kesulitan-kesulitannya.
Keempat, alasan agama. Alasan ini banyak disampaikan oleh orang-orang yang beragama taat, dengan maksud memelihara ketaqwaannya agar selamat di dunia maupun di akhirat. Alasan agama seringdijadikan dasaruntuk menentukan bobot dan kepribadian seseorang, tentang layak tidaknya untuk dijadikan suami atau isteri. Sehingga perkawinan atau pembentukan keluarga dalam artian ini, lebih didasarkan pada perkawinan seagama dan sangat jarang yang melakukannya dengan orang yang lain agama, kecuali karena ada alasan-alasan tertentu yang sangat kuat.
Lepas dari semua itu, menurut R.E. Baber (1953) dalam bukunya “Marriage and The Family”, membentuk keluarga bisa juga didasarkan pada alasan untuk pemenuhan hasrat berkumpul bersama secara kontinyu dengan orang yang dicintainya. Saling memberi dan menerima, saling memperhatikan dan saling memenuhi kebtuhan, serta saling mencintai dan mengasihi, menurut pakar psikologi keluarga tersebut merupakan merupakan alasan yang paling rasional dan masuk akal. Pola hidup berkeluarga pada dasarnya merupakan realisasi fitrah manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk pribadi yang pada dasarnya adalah makhluk ciptaan Illahi. Oleh karena itu, perkawinan tidak saja bersifat lahiriah atau jasmaniah seperti dalam bentuk hubungan seksual, melainkan juga merupakan pentyatuan keseluruhan pribadi kedua belah pihak. Sejak dari hal-hal kecil dalam kehidupan bersama sehari-hari sampai kepada rasa saling memiliki, saling memaski dunia masing-masing, dan saling bantu membantu. Itu semuanya merupakan pencerminan kasih sayang dan saling membutuhkan antara kedua belah pihak. Dengan demikian kedua belah pihakdapat saling menyempurnakan diri. Dan hal ini akan bertambah lagi apabila telah lahir anak-anak mereka.
Sehingga dalam konteks ini, hidup berpasangan, saling peduli dan saling memperhaikan, niscaya akan melahirkan suatu rasa tenang, tenteram dan bahagia dalam keluarga. Karena kebahagiaan keluarga selalu bertopang pada ketenteraman lahir batin, saling mencintai di bawah lindungan rahmat dan kasih dari Tuhan Yang Maha Esa.
Sebagaimana telah dikemukakan di muka, keluarga merupakan unit  masyarakat kecil yang selalu berdiri dalam konteks budaya tertentu. Oleh karenanya, sebagai unit yang berkedudukan strategis, secara aktif keluarga akan selalu menyerap pengaruh subkultur kelompoknya dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Mulai dari pola pikir, adat dan kebiasaan, selera, kesenangan dan ketidaksenangan, sampai dengan perilaku, bahasa, cara bicara dan hobby. Karena itu pula, guna mengenali kebudayaan suatu daerah, secara sepintas cukup dengan melihat pola hidup berkeluarga di wilayah yang bersangkutan. Dengan kata lain kebudayaan keluarga dapat dijadikan cermin kebudayaan masyarakatnya.
Sejalan dengan posisinya sebagai partisipan  subkultur dan kebudayaan tertentu dengan berbagai aspeknya, keluarga sebenarnya juga berperan sebagai penerus kebudayaan. Konsepnya cukup sederhana, kebudayaan sekitar yang merembes ke dalam keluarga akan mendapatkan pengolahan dan kemudian oleh keluarga, disengaja atau tidak, akan disampaikan pada anak melalui peran orientasinya.  Ketidakmatangan anak memudahkan orang-orang di sekitarnya dalam memberikan pengaruh dan melakukan pembinaan.
Dengan kedudukan dan perannya  tersebut, maka keluarga sering dikatakan sebagai primary group. Alasannya, kelompok kecil ini telah mempengaruhi perkembangan individu anggota-anggotanya. Kelompok inilah yang melahirkan individu dengan berbagai macam bentuk kepribadiannya di masyarakat. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri, bahwa sebenarnya keluarga mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas sebagai penerus keturunan saja. Mengingat banyak hal-hal mengenai kepribadian seseorang yang dapat dirunut dari keluarga.
Dalam konteks ini peranan orang tua sangatlah penting. Sebagai perantara atau mediator antara anak dengan masyarakatnya, orang tua harus mampu menjadi penyaring dan penyeleksi yang baik terhadap kebudayaan yang masuk ke dalam keluarga, apabila tak ingin budaya luar yang buruk meresap ke dalam sanubari anak. Perlu diketahui bahwa tidak semau adat dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat cocok dan baik untuk masa depan anak. Tidak sedikit budaya masyarakat luar yang bersifat meracuni anak apabila terserap langsung oleh anak tanpa seleksi yang baik oleh orang tuanya. Sebut saja budaya minum-minum, penggunaan obat-obatan terlarang dan pergaulan bebas. Di sinilah orang tua ditantang untuk memberikan bekal yang terbaik untuk anak, agar kelak masa depannya lebih terarah dan terjamin. Jauh dari perbuatan yang mengarah pada perbuatan kriminal.
Terkait dengan perannya sebagai penerus kebudayaan, paling tidak ada 3 fungsi yang harus dimainkan keluarga, agar dapat menjadi agent kebudayaan yang baik
Pertama, fungsi konservasi. Artinya keluarga harus berperan sebagai media penyampaian benda-benda budaya dari satu angkatan ke angkatan lainnya serta melakukan pengawetan, sehingga memungkinkan lahir suatu tradisi dan dasar kehidupan yang relatif sama. Salah satu alat yang dinilai efektif dan banyak dipergunakan untuk mempertegas fungsi ini adalah “pembiasaan”.
Kedua, fungsi evaluasi. Fungsi ini harus dimainkan keluarga agar tidak menumbuhkan situasi statis yang hanya akan mengakibatkan munculnya masyarakat yang monoton. Dengan fungsi evaluasi, kebiasaan dan tradisi yang layak dikembangkan akan dipikirkan untuk dilanjutkan. Sedangkan yang tidak layak lagi akan dihilangkan atau disingkirkan. Jadi, fungsi evaluasi ini digunakan sebagai antisipasi terhadap kehidupan modern yang bercirikan dinamika kehdupan yang tinggi.
Ketiga, fungsi kreasi. Artinya keluarga diharapkan dapat menjadi wahana perubahan, penyelarasan atau bahkan perombakan semua unsur budaya yang  diwariskan. Dengan demikian orang tua harus menjadi motor penggerak daya kreativitas dan inovasi pada keluarga yang dibangunnya.
Agar dapat melaksanakan ketiga fungsi tersebut, para orang tua yang berfungsi sebagai penyaring dan penyeleksi kebudayaan, perlu memahami dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Kalau tidak, akan terjadi perbedaan yang mendalam antara kedua angkatan tua dan muda itu yang pada akhirnya dapat menjurus kepada rasa saling tidak mengerti dan saling tidak memahami. Atas dasar itu, maka orientasi dan reorientasi kepada kehidupan dan tuntunan hidup sehari-hari dengan menggunakan kaidah hidup sebagai pegangan dan tolokukur, sangat diperlukan bagi para orang tua agar dapat melaksanakan perannya sebagai mediator dan penafsir kehidupan kepada anak-anaknya dengan baik. Namun itu tidak berarti bahwa mereka harus mengembangkan diri dan hanyut dalam arus kehidupan modern tersebut, melainkan pemahaman itu perlu untuk melaksanakan fungsi evaluasi dan fungsi rekreasi terhadap putera puterinya.
Disinilah dibutuhkan kebijaksanaan orang tua untuk dapat menyerap perkembangan dunia luar tanpa harus terseret oleh arus globalisasi yang terkadang menyesatkan. Di sini pula diperlukan sikap hati-hati orang tua dalam menanamkan norma dan kebiasaan baru kepada anak-anaknya. Tentunya dengan maksud agar anak tidak tercemar oleh norma atau budaya baru yang belum tentu baik dan cocok untuk budaya kita.
Dengan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, berarti kita telah memfungsikan keluarga sebagai tempat sosialisasi dan pendidikan secara baik pula. Dampaknya, tentu akan menjadi baik pula terhadap masa depan anak. Yang berarti, kedudukan dan fungsi keluarga sebagai penerus kebudayaan dan wahana pembentukan insan yang berkualitaspun dapat pula ditampilkan, dan berpotensi untuk mendukung pembangunan.

Drs. Mardiya, Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada BPMPDP dan KB Kabupaten Kulonprogo.

JudulInggris

 

IsiInggris

 

Kategori

BkkbN

TanggalArtikel

4/25/2011

Attachments

Created at 5/22/2012 4:49 PM by BKKBN\spAdmin
Last modified at 5/22/2012 4:49 PM by BKKBN\spAdmin