Artikel: PERAN WANITA DALAM MENCIPTAKAN KETAHANAN KELUARGA

Judul

PERAN WANITA DALAM MENCIPTAKAN KETAHANAN KELUARGA

Isi

 
 
Oleh
Drs. Mardiya
 
 
Keluarga yang sejahtera, selalu menjadi dambaan setiap orang. Dengan mencapai tingkat kesejahteraan tertentu, seseorang akan mampu menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan, karena kebutuhan materiil dan spirituilnya terpenuhi. Lebih dari itu, dengan menjadi keluarga yang sejahtera, seluruh anggota keluarga akan dapat mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki.
Secara konseptual, keluarga sejahtera selalu bercirikan ketahanan keluarga yang tinggi. Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental-spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.
Secara operasional, keluarga sejahtera berkarakteristik keluarga yang dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga, yakni : (1) Fungsi Keagamaan, (2) Fungsi Sosial Budaya, (3) Fungsi Cinta Kasih, (4) Fungsi Melindungi, (5) Fungsi Reproduksi, (6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, (7) Fungsi ekonomi, (8) Fungsi Pembinaan Lingkungan.
Ketahanan keluarga hanya dapat tercipta apabila keluarga yang bersangkutan dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara serasi, selaras dan seimbang. Sebuah keluarga tidak akan pernah mencapai tahapan sejahtera apabila fungsi-fungsi keluarga tersebut berjalan secara timpang atau beberapa fungsi tidak dapat dilaksanakan meskipun fungsi lainnya mampu berjalan secara mantap. Sebuah contoh kecil, keluarga yang kaya secara materi yang dalam hal ini fungsi ekonomi keluarga dapat dilaksanakan secara optimal, tidak akan berarti apa-apa untuk mencapai keluarga yang bahagia dan sejahtera bila dalam keluarga tersebut tidak ada rasa kasih sayang dan perlindungan. Karena dalam keluarga yang demikian itu akan terasa gersang, dan anak-anak tidak merasa nyaman tinggal di rumah.
Keluarga sering dipandang sebagai institusi terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Ini pandangan secara umum untuk keluarga yang lengkap. Sebab mungkin saja, sebuah keluarga hanya terdiri dari ayah dan anak atau ibu dan anak, atau mungkin pula hanya terdiri dari suami dan isteri bila mereka masih keluarga baru atau mungkin pula keluarga yang tidak memiliki anak.
Wanita (baca: ibu) dalam sebuah keluarga adalah sosok unik yang bukan saja secara kodrati mampu mengandung dan melahirkan anak, tetapi juga dengan ikhlas dan tulus merawat, mengasuh, dan mendidik anak-anak hingga menjadi orang yang berguna dan mandiri. Sosok ibu pula yang senantiasa melindungi anak ketika dalam bahaya. Menjadi teman bermain dan bercanda. Dengan penuh rasa cinta, seorang ibu selalu menghibur anak ketika sedih dan merasa putus asa. Dengan telaten, ibu selalu memberi semangat hidup pada anak dan selalu mendoakan agar kelak anaknya menjadi “orang” dan dapat hidup dengan layak.
Di era modernisasi, ibu memiliki tugas dan tanggungjawab yang semakin berat. Karena untuk saat ini dan ke depannya, ia bukan lagi hanya mengurus suami dan anak-anaknya, tetapi juga harus ikut berjuang menopang perekonomian keluarga yang tidak lagi mampu dicukup oleh suami. Modernisasi memang identik dengan kebutuhan hidup yang membengkak, namun kesempatan untuk memperoleh penghasilan yang layak semakin sulit. Apalagi bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan dan ketrampilan yang memadai. Oleh karena itu, tidak jarang seorang ibu harus bekerja keras membanting tulang agar anak-anaknya bisa makan atau sekolah pada saat penghasilan suami tak menentu. Ia rela mencucurkan keringat, mengatasi rasa letih karena tenaganya terkuras menjadi buruh gendong, tukang cuci, tukang seterika atau pembantu rumah tangga demi masa depan anak-anaknya. Lihat saja pemandangan di sekitar kita, betapa ibu telah memainkan peran gandanya secara ikhlas, mengasuh anak sekaligus mencari nafkah.
Dalam konteks yang demikian itu, wanita sebagai salah satu bagian dalam keluarga dan berposisi sebagai isteri pendamping suami  atau ibu bagi anak-anak yang dilahirkan memiliki peranan yang sangat besar dalam menciptakan ketahanan sebuah keluarga.
Pertama, dalam pelaksanaan fungsi keagamaan, ibu adalah contoh panutan bagi anak-anaknya. Ketekunan ibu dalam beribadah, membawa pengaruh sangat besar bagi anak-anaknya. Termasuk sikap dan perilaku sehari-hari yang sesuai dengan norma agama.
Kedua, dalam pelaksanaan fungsi sosial budaya, ibu adalah contoh ideal perilaku sosial dan budaya yang akan ditiru oleh anak-anaknya. Cara bertutur, bersikap, berpakaian dan bertindak yang sesuai budaya timur  menjadi sesuai yang wajib dimiliki oleh seorang ibu, agar anak-anaknya juga bisa melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa dengan penuh rasa bangga.
Ketiga, dalam pelaksanaan fungsi cinta kasih, ibu adalah pelopor utama dalam keluarga yang memberikan kasih sayang yang ikhlas pada anak-anak dan suami. Ibu selalu memberi nasehat yang baik dalam hubungan anak dengan anak, anak dengan orangtua, serta hubungan dengan tetangga dan kerabat, sehingga keluarga menjadi wadah utama berseminya kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin.
Keempat, dalam pelaksanaan fungsi melindungi, ibu selalu berusaha menumbuhkan rasa aman dan kehangatan bagi seluruh anak-anaknya, sehingga anak merasa nyaman dan betah tinggal di rumah.
Kelima, dalam pelaksanaan fungsi reproduksi, ibu menjadi penopang utama dalam pengaturan jumlah anak dan jarak kelahiran. Sebagian besar ibu ikhlas menggunakan alat kontrasepsi, agar kelahirannya dapat dikendalikan sehingga tidak memiliki terlalu banyak anak. Ibu juga selalu memberi nasehat putra putrinya untuk pandai-pandai dalam bergaul dan menjaga kesehatan reproduksi remajanya sehingga tidak terjadi kehamilan remaja atau kehamilan sebelum menikah.
Keenam, dalam pelaksanaan fungsi sosialisasi dan pendidikan, ibu menjadi kunci utama dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Ibu pula yang membina anak-anaknya agar memiliki jiwa sosial yang tinggi, supel dalam pergaulan dan pandai menempatkan diri dalam lingkungan sosialnya. Sehingga anak-anaknya mampu berinteraksi secara baik dengan teman, tetangga atau masyarakat sekitar.
Ketujuh, dalam pelaksanaan fungsi ekonomi, sebagaimana telah kami dikemukakan di atas, ibu-ibu sekarang ini  menjadi penyangga kedua ekonomi keluarga. Tidak sedikit pula ibu yang memiliki penghasilan lebih besar dari suami, terlebih bila ia seorang wanita karier yang sukses.
Kedelapan, dalam pelaksanaan fungsi pembinaan lingkungan. Ibu selalu mengajarkan anak untuk mampu menciptakan lingkungan yang sejuk dan pebuh dengan kenyamanan. Ia selalu mendorong anak-anaknya untuk selalu menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, memlihara tanaman hias, atau memanfaatkan kebun dan pekarangan untuk ditanami sayur mayur, tanaman obat dan sebagainya.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa wanita yang dalam hal ini adalah ibu dalam sebuah keluarga memiliki peran yang amat penting dalam menciptakan ketahanan keluarga. Tanpa dukungan wanita, kaum lelaki yang dalam hal ini adalah suami, tidak memiliki kekuatan yang memadai untuk menciptakan keluarga yang sejahtera. Apalagi seorang ayah akan selalu banyak pergi dari rumah karena harus mencari nafkah. Praktis semua pekerjaan rumah dan merawat anak menjadi tugas dan tanggungjawab seorang ibu. Sehingga ibu pula yang mencetak cerah buramnya masa depan keluarga dalam arti yang sebenarnya.
 
Drs. Mardiya, Kasubid Advokasi Konseling dan Pembinaan Kelembagaan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Badan Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Kulonprogo
 
 
 
 

JudulInggris

 

IsiInggris

 

Kategori

BkkbN

TanggalArtikel

10/15/2012

Attachments

Created at 10/9/2012 1:44 PM by yogyaweb
Last modified at 10/18/2012 11:22 AM by yogyaweb