Artikel: MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA, URGENSI DAN UPAYANYA

Judul

MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA, URGENSI DAN UPAYANYA

Isi

​Oleh : Drs. Mardiyo
 
Memasuki era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan perjuangan hidup, diakui atau tidak, perhatian kita terhadap pentingnya penduduk sebagai sumber daya pembangunan semakin menonjol. Penduduk sekarang ini, tidak sekedar kita lihat sebagai faktor produksi semata yang menghasilkan barang dan jasa, tetapi semakin dilihat sebagai produsen, konsumen, sumber pemikiran dan sumber motivasi pembangunan. Dengan pemikiran semacam ini, kita semakin yakin bahwa untuk keberhasilan pembangunan di negara manapun, penduduk tidak cukup hanya memiliki ketrampilan atau penguasaan teknologi saja. Tetapi harus pula memilii wawasan, cara berpikir, orientasi nilai tertentu yang memberikan penghargaan untuk maju sesuai dengan budaya bangsa dan ciri insan yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejalan dengan komitmen kita terhadap pentingnya penduduk dalam pembangunan seperti tersebut di atas, peran keluarga sebagai lembaga masyarakat terkecil, juga kita rasakan menjadi semakin penting. Sebab sebagai lembaga masyarakat terkecil yang pertama dan utama di mana manusia mulai mengenal peradaban dunia, keluarga memiliki peranan yang sangat besar dalam meentukan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Keluarga juga merupakan wahana pengendalian dan penyesuaian sosial bagi anggota-anggotanya. Selain itu, keluarga juga merupakan tempat perlindungan bagi anggotanya dari berbagai ancaman yang bersifat fisik maupun non fisik. Dengan demikian mengingat jumlah dan peranannya yang demikian strategis, seandainya keluarga tersebut dapat dipersiapkan dengan baik, akan dapat menjadi institusi pembangunan yang sangat vital. Terutama dalam ikut menyiapkan sumber daya insani pendukung pembangunan yang memiliki kualitas seperti tersebut di atas.
Untuk dapat berperan sebagai wahana penyiapan sumber daya insani pembangunan, keluarga harus memiliki kualitas tertentu sehingga dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik - yang juga berfungsi untuk menjamin kelangsungan hidupnya - upaya-upaya guna membangun keluarga sejahtera, sangatlah dibutuhkan.
Perlu diketahui bahwa sebelum sampai pada kondisi sejahtera, keluarga acapkali mendapat ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang senantiasa dapat menggoyahkan eksistensi keluarga. Berbagai bentuk ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan tersebut dapat berasal dari luar maupun dari dalam lingkungan keluarga itu sendiri. Kesemuanya itu jika tidak dapat segera diatasi, akan merupakan penghalang yang serius dalam upaya meningkatkan kualitas keluarga.
Dalam kondisi yang demikian, tentu kecil kemungkinannya untuk dapat menciptakan individu-individu yang diharapkan. Oleh karena itu, guna mengatasi semua permasalahan tersebut, keluarga harus mengerahkan segenap daya dan upaya serta memanfaatkan seluruh potensinya agar dapat mencukupi segala kebutuhan hidup anggota-anggotanya. Di samping itu, keluarga juga harus berikhtiar untuk dapat selalu menciptakan suasana aman, tenteram dan nyaman di rumah yang menjadi jaminan bagi seluruh anggota keluarga untuk dapat “kerasan” tinggal di rumah.
Membangun keluarga sejahtera, dengan demikian, pada hakekatnya tidak saja berarti mengentaskan keluarga dari kemiskinan harta dan kebutuhan fisik semata, melainkan juga berbagai dimensi kebutuhan lainnya yang mencakup sosial psikologis dan pengembangan diri untuk jangka waktu yang lebih lama. Salah satu hal yang mendasarinya adalah bahwa kebutuhan hidup sejahtera tidak cukup hanya dari pemenuhan kebutuhan lahiriah, tetapi juga batiniah.
Oleh sebab itu, secara konseptual, membangun keluarga agar menjadi lebih sejahtera harus mencakup upaya-upaya pada beberapa anak sebagai berikut :
Pertama, Aspek Keagamaan. Aspek keagamaan (religius) perlu mendapat perhatian serius dalam membangun keluarga sejahtera. Sejak keluarga terbentuk, aspek keagamaan harus sudah menjadi landasan utama. Ini dicerminkan dari pembentukan keluarga itu yang harus didasarkan oleh perkawinan yang sah menurut kaidah-kaidah agama mapun peraturan pemerintah. Tanpa landasan agama yang cukup, keluarga tidak mungkin dapat melaksanakan fungsi keagamaan. Apalagi secara hakekat keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan keluarga lainnya untuk mengetahui kaidah-kaidah agama, melainkan juga untuk menjadi insan-insan beragama. Sebagai hamba yang sadar akan kedudukannya sebagai makhluk yang diciptakan dan dilimpahi nikmat tanpa henti. Sehingga menggugah mereka untuk mengisi dan mengarahkan hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Ini berarti, yang diharapkan dengan pembangunan pada aspek ini adalah bukan sekedar orang yang serba tahu tentang berbagai kaidah dan aturan hidup beragama, melainkan yang benar-benar merealisasikannya dengan penuh kesungguhan.
Kedua, Aspek Ekonomi. Aspek ekonomi sangat penting diperhatikan dan diupayakan untuk membangun keluarga sejahtera. Karena keluarga yang sejahtera baru dapat dibentuk, apabila keluarga yang bersangkutan telah memiliki landasan ekonomi yang kuat. Lebih-lebih keberhasilan pada aspek ini, akan berpengaruh pada keberhasilan aspek-aspek dalam keluarga. Sebagai satu kesatuan ekonomis, keluarga memang diharapkan mampu mencukupi kebutuhan hidup anggota-anggotanya secara mandiri. Karenanya, keluarga harus dibangun sehingga cukup kuat ekonominya, mengingat faktor ekonomi sering mempengaruhi kemampuan keluarga dalam menjalankan fungsi-fungsi keluarga pada umumnya, selain fungsi ekonomi itu sendiri. Seperti fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi keagamaan dan fungsi pembinaan lingkungan. Memang dapat dibayangkan, bagaimana mungkin seorang kepala keluarga yang berpenghasilan di bawah batas kemiskinan dapat menyediakan biaya hidup sehingga keluarga tersebut dapat hidup layak dan mencapai ketahanan-ketahanan keluarga yang diharapkan. Kondisi seperti ini jelas akan menimbulkan permasalahan sosial, budaya, lingkungan hidup dan kependudukan dalam arti luas.
Ketiga, Aspek sosial budaya. Salah satu tugas keluarga adalah sebagai institusi penerus kebudayaan dalam masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks kedudukan keluarga sebagai penerus kebudayaan, aspek sosial budaya memerlukan perhatian yang cukup ketika kita akan membangun keluarga sejahtera, seiring dengan perubahan sosial budaya yang mengglobal di dunia ini. Keluarga harus dibangun dalam situasi yang kondusif dan memberikan kesempatan kepada seluruh anggotanya untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan. Untuk itu diperlukan pemahaman yang cukup oleh keluarga, terutama oleh pasangan suami isteri, akan pentingnya memantapkan budaya sendiri dalam koridor yang jelas, namun tetap mampu menyerap budaya asing yang positif dan mencegah yang negatif demi perkembangan masa depan keluarga.
Keempat, Aspek Biologis dan Kesehatan. Aspek penting yang tidak boleh dilupakan pula untukdapat membangun keluarga sejahtera adalah aspek biologis dan kesehatan. Perlu adanya perhatian pada aspek ini mendasarkan pada asumsi, bahwa dalam kehidupannya manusia memeiliki berbagai kebutuhan. Salah satunya yang cukup vital adalah kebutuhan biologis dan kebutuhan akan kesehatan. Kebutuhan biologis salah satunya menyangkut kepentingan fungsi reproduksi keluarga, dimana keinginan untuk memperoleh keturunan dan pemuasan nafsu biologis (seks) dapat terpenuhi dengan baik, selain kebutuhan biologis lainnya sebagai makhluk hidup. Sementara kebutuhan akan kesehatan menyangkut kepentingan akan perlunya hidup sehat agar seluruh anggota keluarga dapat bekerja dan beraktivitas dengan baik serta dapat menikmati hasil-hasilnya dengan penuh kebahagiaan. Oleh karena itu, keluarga harus diciptakan menjadi keluarga yang sehat dan bebas dari segala penyakit. Karena bagaimanapun, tingkat kesehatan suatu keluarga akan memberikan dampak pada kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin anggota-anggotanya. Mengingat besarnya hubungan antara aspek biologis dan kesehatan, maka dalam pelaksanaan kedua aspek ini, keluarga khususnya suami isteri, tidak boleh menghadapinya secara biofisik belaka, melainkan harus didasari pula oleh pandangan psikis maupun moral dan sosial.
Kelima, Aspek Pendidikan. Fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan anak atau anggota keluarga lainnya yang sangat vital selain sekolah dan lingkungan, menjadi dasar mengapa aspek pendidikan harus diperhatikan apabila kita ingin membangun keluarga yang sejahtera. Oleh karena itu jangan heran jika Bapak Perguruan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara, menyebut keluarga sebagai salah satu dari Tri Pusat Pendidikan. Karena itu, keluarga harus diberdayakan agar menjadi institusi yang handal dalam mencetak generasi penerus yang cerdas, trampil dan berbudi luhur. Sebagai institusi yang pertama kali dikenal anak, keluarga diharapkan mampu menjadi tempat belajar bagi anak yang menyenangkan dengan suasana yang tenteram, tenang dan penuh kasih sayang. Sehingga anak akan menjadi generasi penerus yang dapat diharapkan perjuangannya dikemudian hari. Menurut Van Dijk (dalam Mardiya, 2000), dahulu pendidikan berpusat pada keluarga dan keluarga merupakan pula pusat pendidikan bagi anak dalam segala bidang. Ditinjau secara historis, keluarga memang merupakan lembaga pendidikan yang pertama ada dalam masyarakat, sebab anak memang dilahirkan dalam keluarga, dan keluargalah yang pertama kali memberikan bantuan dan bimbingan kepada anak sejak lahir. Hal ini bahkan dapat kita saksikan dalam kehidupan hewan. Rasa saling keterkaitan secara biologis dan psikologis, menyebabkan pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang paling wajar bagi anak. Dengan demikian, aspek pendidikan perlu mendapat perhatian yang cukup, karena keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama bagi anak yang akan membentuk kepribadiannya. Karenanya, dalam hal-hal tertentu, kepribadian dan perilaku seseorang akan dapat dirunut melalui keluarga.
Keenam, Aspek Cinta Kasih. Perlu diketahui keluarga sejahtera tidak akan terbangun tanpa ada komunikasi yang baik antara anak dengan orang tuanya, antara anak dengan anggota keluarga lainnya, dan anak dengan lingkungannya. Di samping itu, komunikasi anak dengan keseluruhan pribadinya, terutama pada saat anak masih kecil yang masih menghayati dunianya secara global dan belum terdifferensiasikan. Sebagaimana kita ketahui, pada saat anak masih kecil, perasaannya masih memegang peranan penting. Secara instuitif ia dapat merasakan atau menangkap suasana perasanaan yang meliputi orang tuanya pada saat anak berkomunikasi dengan mereka. Dengan perkataan lain, anak sangat peka akan iklim emosional yang meliputi keluarganya. Dengan demikian, kehangatan yang terpancar dari keseluruhan gerakan, ucapan, mimik serta perbuatan orang tua, merupakan syarat utama yang harus dipenuhi agar anak merasa nyaman di rumah. Jadi secara langsung maupun tidak langsung, suasana yang penuh cinta kasih akan menjadi modal yang tak ternilai harganya bagi keluarga untuk membahagiakan anak dan mensejahtrakan keluarga itu sendiri. Perhatian pada aspek cinta kasih ini akan menjadi lebih lengkap untuk membahagiakan anak dan anggota keluarga lainnya, jika disertai dengan perlindungan keluarga yang cukup kepada seluruh anggotanya. Sehingga tumbuh rasa aman, tenang dan tenteram serta terlindungi dari berbagai ancaman dan tekanan dari luar, baik yang bersifat fisik maupun psikis.
Selain keenam aspek tersebut di atas, dalam membangun keluarga sejahtera, juga harus memperhatikan aspek-aspek  lain yang terkait dan memiliki daya ungkit tinggi untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga. Seperti aspek pembinaan lingkungan yang memfokuskan pada penciptaan hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara keluarga dengan lingkungannya baik lingkungan fisik (alam) maupun non fisiknya (budaya), dan aspek sosialisasi yang mengkhususkan hubungan antar anggota dalam satu keluarag dan antar anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya. Sehingga, jika aspek sosialisasi ini mendapat perhatian yang optimal, maka akan diperoleh individu-individu yang tidak saja mampu berkomunikasi secara baik dengan anggota keluarga lainnya atau masyarakat luas, tetapi juga individu yang mampu bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungannya.
Dengan dasar pemikiran yang telah diuraikan di muka, maka membangun keluarga sejahtera merupakan upaya mutlak yang harus dilakukan keluarga – baik secara mandiri maupun dengan dukungan pemerintah – jika kita menginginkan keluarga dapat menghasilkan individu yang berkualitas. Di samping keluarga itu sendiri mampu menjadi institusi pembangunan yang handal, dan mampu menjadi aset yang tak ternilai harganya dalam memberikan power bagi pembangunan. Apalagi sejalan dengan dimasukinya era milenium III, keberadaan SDM yang berkualitas serta potensial semakin dibutuhkan guna menjawab fenomena-fenomena dalam berbagai aspek kehidupan yang bakal terjadi pada abad ke-21.
 
Drs. Mardiya
Ka Sub Bid Advokasi Konseling dan Pembinaan KB dan Kesehatan Reproduksi pada BPMPDPKB Kab. Kulon Progo.
 
 
 

JudulInggris

 

IsiInggris

 

Kategori

BkkbN

TanggalArtikel

6/10/2013

Attachments

Created at 6/10/2013 8:02 AM by yogyaweb
Last modified at 6/10/2013 8:02 AM by yogyaweb