Depan > Index Artikel > Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK)
Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK)
Senin, 16 April 2012  |  BkkbN

 Oleh : Sofia Nur Yulida Furi


Perubahan nomenklatur BKKBN sesuai dengan Undang-Undang no 52 Tahun 2009 yang dulunya Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, membuat BKKBN mempunyai tugas baru, yaitu bidang kependudukan. Dalam bidang kependudukan, Indonesia masih mempunyai beberapa permasalahan yang terkait dengan aspek kuantitas, kualitas, persebaran dan data kependudukan.
Bulan Oktober tahun 2011 penduduk Dunia diperkirakan sudah mencapai 7 miliar dan sekitar 237,6 juta merupakan penduduk Indonesia (BPS, 2011). Jumlah penduduk yang terus bertambah mempunyai dampak bagi pembangunan Bangsa Indonesia. Penduduk merupakan modal dasar pembangunan, apabila jumlah penduduk yang bertambah tidak diikuti peningkatan kualitas maka akan menimbulkan permasalahan pembangunan.
Pengendalian penduduk perlu dilakukan untuk mengurangi permasalahan yang timbul akibat bertambahnya jumlah penduduk, salah satu caranya dengan menggiatkan kembali program Keluarga Berencana (KB) yang sejak berlakunya otonomi daerah kurang tertangani secara serius. KB dalam arti luas adalah perubahan pola pandang, nilai, sikap, dan perilaku setiap orang/keluarga sehingga menganut norma baru bahwa keluarga kecil (anak sedikit) lebih baik (dalam membangun dan membina keluarga harmonis, bahagia, dan sejahtera) daripada banyak anak tetapi tidak sejahtera.
Supaya terjadi perubahan pola pandang, nilai, sikap dan perilaku tersebut perlu dilakukan penyadaran sejak usia dini sampai usia lanjut. Upaya tersebut bisa dilakukan melalui pendidikan formal dan informal dimulai sejak usia dini, sehingga generasi muda menjadi tahu, mau dan mampu menerapkan norma baru dalam kehidupan. Diharapkan dengan timbulnya kesadaran akan norma baru tersebut maka generasi mendatang akan mempunyai kehidupan yang lebih baik dan dapat mewariskan sikap dan perilaku yang rasional serta bertanggungjawab kepada generasi selanjutnya. Norma, sikap dan perilaku yang responsif terhadap pemecahan masalah kependudukan seperti itu disebut Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan atau PHBK.
Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK) adalah upaya untuk memberdayakan anggota keluarga dan masyarakat agar tahu, mau, dan mampu mempraktikkan pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang kehidupan berwawasan kependudukan (PSP-KBK) serta berperan aktif dalam gerakan Keluarga Berencana di masyarakat. Ciri PHBK adalah bagaimana anggota keluarga dan masyarakat peduli terhadap permasalahan penduduk disekitarnya, yaitu :
1. Peduli terhadap manusia dan kebutuhan hidupnya
2. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan ekonominya
3. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan kehidupan sosial budaya, agamanya
4. Peduli terhadap pertumbuhan penduduk dan lingkungan hidupnya


Proses pembentukan PHBK dilakukan melalui ‘proses pendidikan’ (educational processes) dalam arti luas, baik melalui pembelajaran di sekolah (jalur formal), penyampaian melalui kursus dan kediklatan (jalur nonformal) atau melalui pemberian kediklatan (jalur nonformal) atau melalui pemberian informasi dengan menggunakan institusi keluarga atau media massa, baik cetak, elektronik, dunia maya atau media kesenian tradisional yang ada di masyarakat (jalur informal).
Pemecahan masalah kependudukan melalui Gerakan PHBK meliputi 10 butir PHBK (yang masih diujicobakan di 4 provinsi, yaitu NTB, Bali, Jawa Barat dan Aceh melalui Posyandu, BKB, PAUD dan PIK-R pada tahun 2011):
1. Pendewasaan usia perkawinan (laki-laki 25 tahun dan perempuan 20 tahun)
2. Memiliki 2 (dua) anak lebih baik
3. Pengaturan jarak kelahiran
4. Penggunaan alat kontrasepsi
5. Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS)
6. Persalinan ditolong tenaga kesehatan
7. Pelaporan setiap kelahiran, kematian dan perpindahan (lampid)
8. Keluarga ramah anak dan lingkungan
9. Keluarga berkarakter
10. Keluarga peduli pendidikan


Wilayah uji coba PHBK tahun 2012 akan dilakukan di 4 Provinsi lainnya, yaitu DIY, Gorontalo, Jambi dan Kalimantan Timur, melalui Posyandu, BKB, PAUD dan PIK-R. Sampai pada tahun 2014 diharapkan 33 Provinsi di Indonesia menjadi wilayah uji coba PHBK.
BKKBN bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung kegiatan PHBK ini, antara lain dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Bentuk kerjasama tersebut diwujudkan dalam MOU tentang upaya mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera melalui pendidikan berwawasan kependudukan dan keluarga berencana bagi pendidik, peserta didik, dan tenaga kependidikan yang ditandatangani tanggal 4 Agustus 2011, yaitu :
- Nota Kesepahaman Bersama antara BKKBN dengan Kementerian Pendidikan Nasional
- Nota Kesepahaman Bersama antara BKKBN dengan Kementerian Agama


Dengan adanya MOU antara BKKBN dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama diharapkan kegiatan PHBK dapat dilaksanakan di sektor formal melalui sekolah-sekolah di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dari tingkat dasar sampai tingkat lanjut. 
Menurut Darahim dkk (2011) pendidikan kependudukan menitikberatkan pada perubahan cara pandang, nilai, sikap, dan perilaku yang rasional dan bertanggungjawab. Ada empat hal yang menyangkut pendidikan kependudukan, yaitu :
1. Pendidikan kependudukan adalah program kependidikan yang tidak sama dengan program informasi dan promosi (KIE) yang dilakukan untuk mengajak sasaran mengikuti anjuran tertentu seperti yang dilakukan BKKBN dalam mempromosikan penggunaan alat KB
2. Sasaran pendidikan kependudukan lebih diarahkan kepada anak usia sekolah dan remaja agar dapat mempersiapkan diri dalam memasuki usia dewasa dan membangun rumah tangga dengan sikap mental yang lebih rasional dan bertanggung jawab
3. Substansi materi yang disampaikan menyangkut konsep demografi dan dampak pertambahan penduduk yang tidak terkendali terhadap kesejahteraan sosial ekonomi, kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial-budaya, kriminalitas dan ketertiban umum, dan kerukunan hidup beragama serta keseimbangan lingkungan hidup menyangkut daya dukung dan daya tampung alam
4. Pertambahan penduduk akan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat, baik mikro (keluarga), messo (masyarakat) maupun makro (nasional dan negara).


Program Pendidikan Kependudukan dilaksanakan melalui 3 jalur, yaitu jalur formal, nonformal dan informal. Pelaksanaan Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK) melalui jalur pendidikan formal dalam bentuk pengintegrasian PHBK ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), seperti materi dalam pelajaran pada tingkat SD, muatan lokal pada tingkat SLTP, serta integrasi pengembangan diri : ekstra kurikulum dan bimbingan konseling pada tingkat SLTA. Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK) melalui jalur pendidikan nonformal diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri pada pelatihan-pelatihan atau diklat yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah maupun swasta, seperti LSM/LSOM, lembaga kursus, TP-PKK, KNPI, dan Pramuka serta pada kegiatan momentum, seperti KB-Kes, TNI, HARGANAS, Pesantren Kilat dan lomba pidato. Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan (PHBK) melalui jalur pendidikan informal, yaitu pendidikan diajarkan dengan metode integrasi melalui :



1. Pendidikan yang diajarkan langsung oleh orang tua
2. Pendidikan yang diselenggarakan oleh pengasuhan
3. Kelompok-kelompok kegiatan (BKB, PAUD, POSYANDU, PIK-R)
4. PWI ( media cetak dan media elektronik)
5. Kelompok (pengajian/majelis ta’lim)
6. Remaja masjid, remaja Hindu dan remaja Kristen
7. SIJAR, Fapsedu