PERGAULAN SEHAT PEDULI PENCEGAHAN STUNTING

“Remaja putri harus waspada terhadap rayuan gombal agar tidak terjadi pernikahan dini akibat ‘kecelakaan’ yang berisiko melahirkan anak stunting!”

Pernyataan menarik ini dilontarkan Panewu Kapanewon Kasihan, Subarta, S.Sos., M.Si., di hadapan peserta kegiatan Sosialisasi Pencegahan Stunting dari Hulu Bersama Mitra Kerja, Selasa (26/7). Lebih lanjut, ia mengharapkan agar remaja yang tergabung dalam program Generasi Berencana (GenRe) dapat membentengi diri serta berperan aktif dalam mengedukasi remaja lainnya mengenai bahaya pernikahan dini. Pernikahan dan kehamilan yang tidak dipersiapkan dengan baik dan matang dari sisi kesehatan, dapat berisiko melahirkan anak stunting. Penanganan stunting menjadi salah satu prioritas utama di Kabupaten Bantul, selain persoalan sampah dan pengembangan kabupaten layak anak.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Shodiqin, SH., MM., dalam kegiatan yang berlangsung di aula KUD Tani Makmur tersebut menyampaikan bahwa BKKBN tidak bisa sendirian dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sehingga membutuhkan kerja sama dengan mitra-mitra kerja terkait. Kegiatan sosialisasi yang digelar tersebut, sekaligus juga sebagai bagian dari tugas Komisi IX DPR RI dalam memonitor dan melakukan evaluasi terhadap anggaran yang sudah disetujui dan disahkan, apakah benar-benar bisa dilaksanakan oleh BKKBN dan menyentuh masyarakat luas.

Sejak lahirnya Undang-Undang Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, tugas pokok dan fungsi BKKBN menjadi lebih luas dalam bidang kependudukan yaitu mengupayakan peningkatan sumber daya manusia. Ditunjuknya BKKBN sebagai koordinator percepatan penurunan stunting oleh Presiden Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2021 mengharuskan BKKBN mengambil langkah-langkah strategis. Beberapa upaya yang sudah dilakukan adalah dengan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI), Rencana Aksi Daerah, pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), pembentukan Tim Pendamping Keluarga (TPK), pelaksanaan Audit Kasus Stunting serta menggandeng mitra kerja sebagai Bapak Asuh Anak Stunting.

Meskipun menjadi koordinator percepatan penurunan stunting, BKKBN tidak melupakan tugas utama dalam hal Keluarga Berencana (KB). Hal tersebut dapat dilaksanakan secara bersama-sama atau beriringan dengan pencegahan stunting. Jika program KB berhasil, hal itu sekaligus  dapat mencegah terjadinya stunting.

BKKBN bertekad menurunkan stunting dengan cara ‘mencegah’ sehingga tugas utama dari TPK adalah mendampingi keluarga-keluarga yang berisiko stunting, mulai dari para remaja dan calon pengantin (catin). Remaja harus mendapatkan sosialisasi tentang pencegahan stunting, termasuk apa yang dikenal dengan istilah Triad KRR yaitu tidak melakukan seks bebas, pernikahan dini dan mengkonsumsi narkoba sehingga dapat terhindar dari risiko yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja. Bagi calon pengantin, diimbau agar dapat mendaftarkan diri ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat maksimal 90 (sembilan puluh) hari sebelum pelaksanaan pernikahan dan menggunakan aplikasi Elsimil yang merupakan salah satu inovasi unggulan BKKBN dan bisa diunduh melalui Playstore. Aplikasi yang menghubungkan catin dengan TPK tersebut, ditujukan bagi calon pengantin dan remaja agar lebih memahami pentingnya pencegahan stunting pada anak.

Selain hal tersebut, dirinya juga mengingatkan tentang bahaya 4T (empat terlalu) atau faktor yang mempunyai pengaruh besar bagi kesehatan ibu dan anak, yaitu terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering, dan terlalu banyak melahirkan.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Ketua DPRD Bantul, Damba Aktivis, yang menyampaikan komitmen anggota DPR RI dalam pencegahan penurunan stunting. Berkaitan dengan stunting, dirinya memberikan apresiasi kepada BKKBN dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Bantul dan mitra kerja lainnya yang telah bersama-sama melakukan tindakan pencegahan stunting. Di depan sekitar lebih dari seratus tujuh puluh peserta kegiatan hari itu, ia mengingatkan agar catin mengunduh dan mengoptimalkan penggunaan Elsimil. Harapannya, kegiatan sosialisasi juga tidak dilaksanakan hanya satu atau dua kali saja, tetapi dapat berkesinambungan.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris DP3AP2KB Kabupaten Bantul, Drs. Lukas Sumanasa, M.Kes., juga menginformasikan bahwa sebagai wujud komitmen, Kabupaten Bantul telah menindaklanjuti regulasi dari pemerintah pusat terkait penanganan stunting antara lain dengan diterbitkannya Keputusan Bupati Bantul tentang TPPS, Lokus Stunting, dan Tim Audit Stunting. Kabupaten Bantul juga menjadi yang pertama di Indonesia dalam melaksanakan Deklarasi Tim Percepatan Penurunan Stunting.

Sementara itu, wakil dari Kalurahan Tirtonirmolo, Amin, menyatakan bahwa slogan kalurahan saat ini adalah ‘2023 Kalurahan Tirtonirmolo Zero Stunting’. Untuk menjadikan hal tersebut nyata, kalurahan tidak dapat bekerja sendiri sehingga membutuhkan kerja sama antara kalurahan, stakeholder dan masyarakat.

Penghujung acara pada hari itu ditutup dengan diskusi antara para narasumber dengan peserta dan pembagian doorprize. Peserta yang terdiri dari enam puluh persen wanita dan empat puluh persen pria tersebut sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.

Pranata Humas DSY dan Dwi Isnaeni

WhatsApp Admin