SELENGGARAKAN ORIENTASI TIM PENDAMPING KELUARGA, KAPER INGATKAN TARGET PENURUNAN ANGKA STUNTING

Saat membuka Orientasi Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kalurahan Singosaren, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Senin 5 September 2022, Kepala Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta, Shodiqin, SH., MM., menngingatkan kepada sekitar lima puluh satu orang peserta bahwa angka stunting di Indonesia berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 adalah sebesar 24,4 persen dan ditargetkan akan turun menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Masih berdasarkan SSGI, angka prevalensi balita stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada tahun 2021 sebesar 17,3 persen. Angka tersebut merupakan yang ketiga terendah secara nasional. Sedangkan untuk kabupaten/kota di DIY, angka prevalensi tertinggi berada di Kabupaten Gunungkidul yaitu sebesar 20,6 persen dan terendah di Kabupaten Kulon Progo sebesar 14,9 persen.

Kegiatan orientasi bagi TPK yang dilaksanakan BKKBN adalah bagian dari pelaksanaan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 dimana dalam Perpres tersebut BKKBN ditunjuk menjadi Ketua Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting di Indonesia. TPK memiliki tugas antara lain mendampingi keluarga-keluarga yang berisiko stunting, memantau calon pengantin (catin), serta menganjurkan kepada warga masyarakat agar catin menggunakan Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil).

Pada penghujung sambutannya, Kepala Perwakilan BKKBN DIY menyampaikan terima kasih kepada jajaran pemerintah Kabupaten Bantul yang sudah serius menangani persoalan stunting. Selain TPK, Kabupaten Bantul juga sudah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) secara lengkap mulai tingkat kabupaten sampai dengan tingkat desa. Kepada peserta kegiatan, ia berharap dengan dilaksanakannya orientasi tersebut, dapat semakin menurunkan angka stunting, khususnya di DIY. Dirinya juga menyampaikan bahwa tugas sebagai TPK adalah sebuah tugas yang mulia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kabupaten Bantul, Dra. Ninik Istitarini, Apt., MPH., menjelaskan bahwa fokus penanganan stunting saat ini adalah mencegah terjadinya ‘stunting baru’.

“Jika catin sudah mengakses Elsimil, maka kita akan mengetahui kondisi atau status kesehatan dari catin tersebut dan dapat berkoordinasi lebih lanjut dengan kader atau tenaga kesehatan di tingkat kecamatan. TPK harus tahu berapa jumlah catin dan ibu hamil yang ada di wilayahnya, terutama yang mempunyai risiko melahirkan anak stunting,” demikian paparnya.

Kabupaten Bantul telah melaksanakan kajian hasil audit kasus stunting dengan menghadirkan dokter-dokter spesialis yang sudah bersedia untuk membuka konsultasi mengenai balita stunting di Puskesmas. Pemerintah Kabupaten Bantul juga memberikan apresiasi dan selalu menyemangati TPK yang dinilai sangat luar biasa pengabdiannya.

Turut hadir dalam kegiatan orientasi hari itu, Panewu Kapanewon Banguntapan, I Nyoman Gunarsa, S.Psi., M.Si., Lurah Kalurahan Singosaren Joko Prayitno, fasilitator Jumiati dan Waheti Novitasari, unsur dari Perwakilan BKKBN DIY dan DP3APPKB Kabupaten Bantul.-DI/Humas BKKBN DIY-

WhatsApp Admin